Search this blog

Mar 20, 2011

Cerita tentang doa dan berkah

Kuala Lumpur, November 22, 2003

Demikian yang saya dengar; bahwa Avalokiteshavara adalah perwujudan dari sifat cinta kasih seorang Buddha. Di India, Avalokiteshvara adalah figur laki-laki.
Tetapi setelah tradisi ini diadopsi di China, karena dirasakan bahwa cinta kasih
lebih identik dengan wanita, maka lahirlah figur Kwan Im. Bahwa juga sebenarnya Avalokiteshvara tidak exist. Demikian yang saya dengar dan demikian juga yang saya percaya selama ini. Karena itu juga saya tidak begitu antusias membaca Namo Kwan Im.......sampai beratus-ratus bahkan beribu kali.........
Saya juga dengar bahwa membaca keng sampai beribu kali tersebut bukanlah untuk merubah nasib seperti 'promosi' yang tertulis di buku-buku yang disebarkan di kelenteng. Menggunakan istilah meditasi; membaca keng adalah salah satu upaya untuk melatih konsentrasi.

Tradisi Mahayana begitu popular di Asia, juga karena program 'marketing' yang
bagus (......bahwa dengan membaca keng bisa menolong meringankan
penderitaan......).
Kalau ditelaah lebih lanjut, itu semua ada benarnya. Seperti halnya meditasi
dengan melafalkan "Buddho" berulang-ulang.

Keluarga saya sendiri mempunyai tradisi untuk bersembahyang memuja Kwan Im. Dengan berdoa, akan meringankan bebannya. Dan hal ini selalu dilakukan.

Terus terang, selama ini doa saya hanya satu; Semoga semua makhluk berbahagia. Bagi saya, semua makhluk hidup dari dan dengan karma mereka sendiri. Tetapi ada satu kejadian yang membuat saya benar-benar tidak berdaya dan tidak mampu berbuat apa-apa sampai saya mampu melakukan apa saja untuk mengatasi hal tersebut. Sudah benar-benar desperate.

Begini ceritanya; anak saya; Dhilan, yang baru saja berumur satu bulan hari ini,
lahir dengan sebuah benjolan di kepalanya. Berwarna merah dan bernanah
diatasnya. Semakin hari semakin besar, terakhir kami ukur, ukurannya 2.5cm x
2.5cm. Karena letaknya diatas kulit kepala, dikhawatirkan akan mempengaruhi
otaknya. Anak pertama saya dan lahir dengan sebuah benjolan. Sangat mengkhawatirkan.
Karena di Kuala Lumpur banyak dokter spesialis, maka hampir tiap hari kami harus ke rumah sakit mengunjungi para dokter ahli. Dari dokter spesialis kanak-kanak, dokter bedah anak, dokter bedah otak, dokter bedah plastik, semuanya belum menemukan sebab dari benjolan tersebut karena kasus ini termasuk jarang. Hasil UltraScan menunjukkan bahwa Dhilan baik-baik saja, tetapi herannya benjolan tersebut makin besar dan merah. Akhirnya dokter menyarankan untuk di MRI untuk melihat hasil yang lebih jelas. Bagi yang pernah menjalani MRI, orang dewasa aja kadang tidak nyaman karena suara yang bising dan ruangan yang sangat dingin dan mesti dalam kondisi tidak bergerak; apalagi untuk bayi umur satu minggu. Tetapi sayangnya Dhilan tidak bisa diam dan usaha MRI pun gagal.
Radiologist menyarankan untuk menggunakan General Anastetik, dimana Dhilan akan disuntik dan kemudian menggunakan life support machine baru kemudian di MRI, saya menolak karena dengan option tersebut, Dhilan akan tidak sadarkan diri selama 5 jam lebih.

Dokter bedah plastik menyarankan untuk bedah plastik, menghilangkan benjolan tersebut. Saya lemas, membayangkan anak sekecil Dhilan
mesti dioperasi, etc.

Akhirnya ada yang merekomendasi seorang dokter spesialis kanak-kanak yang
berpengalaman di Subang Jaya Medical Centre. Disana Dhilan berhasil di MRI
dengan menggunakan sedation. MRI sebuah proses yang cukup tedious untuk baby tetapi akhirnya berhasil dilaksanakan dan benjolan di kepala Dhilan ternyata tidak berhubungan dengan otak. Kemungkinan besar bisa dilakukan laser surgery untuk menghilangkan benjolan tersebut. Sudah agak lega sedikit tetapi masih khawatir memikirkan laser surgery yang harus dilaksanakan. Juga ada sedikit rasa takut. Biarpun laser, tetap saja sebuah surgery. Remember, Dhilan masih baby berumur hitungan hari.

Masih dalam keadaan desperate, yang bisa saya lakukan adalah berbagi dengan
beberapa teman dekat, lewat email dan telepon. Sharing. Semua membantu berdoa untuk Dhilan. Saya pun berdoa untuk Dhilan. Entah itu kekuatan doa, entah itu keajaiban, tidak tahu apalagi, lambat laun benjolan di kepala Dhilan pun mengecil, tiap hari tambah kecil, dan sekarang, setelah 30 hari, yang tinggal adalah nanah yang sudah mengering, benjolan tersebut sudah rata dengan kulit kepala.

Mungkin para bodhisatva turut menolong Dhilan.
Kemarin, ketika Dhilan tepat berumur 30 hari, kami ke Mahavihara Brickfields
untuk meminta blessing dari Chief Reverend; Chief Reverend meletakkan tangannya di kepala Dhilan dan little Dhilan dengan tenangnya, tidak menangis, hanya menatap dengan mata kecilnya. Mungkin itu semua karena kekuatan doa.
Dengan berdoa, membantu meringankan beban saya. Terkabul atau tidaknya, at least saya sudah berbagi beban.

Regards,
Jenty



Catatan tambahan: Tulisan ini baru saya download di thn 2011, Dhilan sudah 7 tahun dan sehat. Benjolannya sdh tidak ada  tetapi bekasnya masih tersisa di kepala, berubah bulatan putih, sampai hari ini tidak ada rambut yang tumbuh diatas benjolan itu dan Dhilan tumbuh menjadi anak yang cerdas. Daya ingatnya tajam, apa yang pernah dia lakukan, ucapkan atau apa yang pernah saya ceritakan beberapa tahun yang lalu, dia masih bisa ingat dengan jelas. Mungkin ini juga berkah dari benjolan itu, siapa yang tahu...

No comments:

Post a Comment