Search this blog

Mar 21, 2011

Are you ready to face the sunsets?

Jakarta, February 12, 2006

Rasanya saya ingin menulis sedikit tentang tentang apakah anda sudah siap menghadapi matahari terbenam?

Versi saya; apakah kita sudah siap menghadapi kematian? Bagaimana dengan keluarga yang kita tinggalkan, apakah mereka bisa bertahan hidup tanpa kita?
Sangat menyedihkan ketika melihat persembahan makanan yang dilakukan untuk anggota keluarga saya yang baru meninggal tahun lalu dan membayangkan; bahwa ada kemungkinan bahwa suatu saat ada kemungkinan saya juga akan dilahirkan di alam kehidupan yang rendah dan memerlukan makanan-makanan tersebut.
Hal ini yang memberikan saya semangat, ketika badan sudah capek, tetapi masih semangat untuk melakukan ini dan itu. Walaupun saya tidak mengharapkan balas jasa tetapi semangat bahwa kita melakukan sesuatu yang berguna, itu sudah lebih dari cukup.
 
Saya sendiri, awalnya sempat terbebani dengan kehadiran anak saya karena kesempatan saya untuk berlatih menjadi lebih sedikit dan harus diakui bahwa bermain bersama anak saya lebih menyenangkan daripada meditasi yang sebentar-sebentar diganggu sama dia......dan diajak bermain bola.
Tetapi setelah membaca pengalaman seorang ibu di Eastern Horizon versi Bahasa Indonesia tentang kesulitan dia sebagai ibu dan kesempatan berlatih; mendadak saya seperti dicerahkan.... ternyata ada juga yang punya pengalaman sama dengan saya. Artikel lengkapnya mungkin bisa di google atau contact penerbit karaniya, saya sudah lupa edisi yang mana. 
 
Mengenai menabung dan asuransi; mampu atau tidak mampu itu sangat relatif, tergantung life style anda. Lakukanlah kedua hal tersebut, bila tidak ingin menjadi belas kasihan dari orang lain. Bila kita tidak menabung, kita akan menjadi beban orang lain ketika musibah itu datang, dan hal ini tidak bisa kita prediksi sebelumnya.
Tentunya akan lebih baik lagi kalau kita sudah mampu mensupport diri kita sendiri, bukankah lebih baik memberi daripada meminta?
 
Untuk asuransi, banyak jenis dan macamnya; ada 3 hal yang perlu kita teliti sebelum membeli;
 
Pertama; cari perusahaan yang solid yang mampu membayar klaim kita pada saat kita teramat membutuhkannya.
 
Kedua; lihat laporan keuangannya, bagus atau tidak, ini bisa umumnya dipublikasikan di media massa, umumnya di kompas (hanya perusahaan bagus yang berani mempublikasikan laporan keuangannya di kompas, sementara kalau dipublikasikan di pos kota, don't even bother).
 
Ketiga; cari agen yang bagus yang bisa membantu memberikan solusi atas masalah kita, bukan sekedar menjual saja dan berkoar-koar tentang produknya; belum tentu apa yang dijual sesuai dengan kita. Karena harus diakui produk asuransi juga banyak sekali.
 
Kalau bingung mau menghubungi siapa, mungkin saya bisa membantu.

Hidup Cukup

Jakarta, February 11,2006.

Sering merasakan bahwa kita selalu ingin mendapatkan lebih dan lebih banyak uang lagi dan terkadang bingung dengan kata cukup? Dititik manakah kita perlu berhenti dan mulai menikmati hidup kita?
Saya ingin berbagi dengan teman-teman mengenai “hidup cukup” dari sudut perencanaan keuangan keluarga.
Kita bekerja keras untuk mencari sandang dan pangan. Kita juga harus memproteksi sandang kita. Caranya? Membeli asuransi untuk melindungi rumah dan mobil agar kalau terjadi musibah, kantong kita aman dari hal-hal yang tidak kita inginkan. Apa saja bisa terjadi, bahkan benda dari langit saja bisa jatuh dan menimpa rumah kita. Kalau tidak ada asuransi rumah, habislah, untuk membangun rumah kembali memerlukan uang yang lumayan, bisa menguras tabungan. Sementara mobil? Mobil teman saya yang lagi parkir dipinggir jalan, tiba-tiba ditimpa pohon yang tumbang, langsung mobilnya berubah wujud, jadi “penyot”.Untuk melindungi pangan, kita harus memproteksi pendapatan kita; dengan membeli asuransi yang mengcover sakit kritis (ini yang paling banyak menghabiskan tabungan, hasil kerja keras bertahun-tahun), cacat tetap total, kecelakaan dan meninggal dunia. Setelah ini terpenuhi, barulah kita menabung. Kenapa? Karena bila terjadi musibah tersebut diatas, kita tidak mampu bekerja lagi dan gajipun tidak akan diterima, akan sulit melanjutkan gaya hidup yang sama.
Teman saya, usia 35 tahun, dideteksi menderita kanker, dan karena tidak punya asuransi, harus menjual rumah dan mobil.
Beberapa teman Buddhis saya mengatakan bahwa sebagai umat Buddha, kita tidak perlu beli asuransi karena karmalah yang menentukan semuanya. Hmm, menurut saya, karmalah yang membawa kalian bertemu dengan penjual asuransi.
Cara menghitung kebutuhan asuransi jiwa secara umum adalah sederhana. Umumnya yang saya gunakan adalah 20 tahun perlindungan biaya hidup. Misalnya biaya hidup bulanan adalah Rp 5 juta/bulan x 1 tahun = Rp 60 juta. Bila kita ingin melindungi biaya hidup kita selama 20 tahun, dengan asumsi pada saat itu, anak kita sudah mandiri dan mampu menolong menopang biaya hidup orang tua, Rp 60 juta x 20 = Rp 1.2 Miliar. Setelah itu barulah kita menghitung premi asuransi yang harus dibayar karena saat ini, jenis asuransi sangat beragam dan umumnya para pembeli tidak mengerti apa yang mereka beli, makanya mereka sangat bergantung pada sales asuransi. Kalau butuh bantuan, bisa menghubungi saya untuk konsultasi, untuk mendapatkan perspektif yang berbeda dengan agen anda.
Besarnya tabungan yang diperlukan dan nilai asuransi yang kita inginkan, itu bisa dihitung berdasarkan kebutuhan kita saat ini dan life style kita. Untuk asuransi, seringkali banyak client yang underinsured (nilai asuransi yang mereka beli, tidak cukup untuk mengcover kebutuhan mereka), walaupun ada juga sebagian yang over insured.
 (karena punya uang lebih, akhirnya membeli asuransi terus menerus, padahal kebutuhannya terbatas di level tertentu saja).
Dana tunai itu penting, karena seringkali banyak sekali hal tidak terduga yang memerlukan uang dalam waktu cepat. Dan selanjutnya tabungan, kita harus menabung di instrumen tabungan yang bisa MENGALAHKAN inflasi. Misalnya kalau inflasi adalah 5%, sementara bunga bank berkisar 2%, tabungan kita akan tidak banyak berarti karena akan habis digerus inflasi. Kita harus meng-investasikan uang kita di instrumen yang bisa menghasilkan bunga 12-15%. Saya sendiri memilih reksa dana saham dari perusahaan yang memiliki reputasi bagus selama 5 tahun terakhir.
Tabungan sebesar 3 bulan gaji diperlukan, untuk menjaga-jaga kemungkinan kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dana cadangan ini juga bisa dihitung dari biaya hidup, setidaknya minimum 6x dari total biaya hidup bulanan. Hal ini penting karena ketika terjadi hal yang tidak kita inginkan, seperti PHK atau perusahaan bangkrut, etc, setidaknya kita masih bisa bertahan hidup sambil mencari pekerjaan yang baru atau memulai bisnis baru.
Kesalahan yang sering client saya lakukan adalah tidak memiliki cash yang cukup untuk “rainy days” dan menginvestasikan uangnya di property. Property tidak liquid, terkadang lebih mudah pada saat membeli tetapi ketika butuh uang dan mau dijual, tidak ada pembeli yang berminat.
Selain tabungan secara materi, tabungan dalam bentuk lain juga diperlukan. Mengutip kata Sayalay Dipankara, kita harus “ready to face the sunsets”. Katanya, ini asuransi untuk kehidupan kita di masa mendatang.
Dan ajahn Brahm pernah berkata bahwa “hidup itu harus berkecukupan hati” karena berapapun itu, tidak akan pernah cukup……

PF: Artikel ini pernah saya tulis di milis ramu_dharmajala yang kemudian diforward ke milis dharmajala oleh teman saya.
Profesi saya adalah perencana keuangan. Awal January 2010, saya mendapatkan gelar CFP® (Certified Financial Planner), sertifikasi untuk para perencana keuangan.

Live Happily Ever After, Mungkinkah Itu?

Jakarta, November 19, 2007

Kebanyakan dari kita, menginginkan sebuah pernikahan yang bahagia, mapan secara keuangan, dengan anak yang lucu-lucu dan pintar-pintar, tetapi kenapa tidak semua pernikahan berakhir dengan suka cita?
Mungkin diantara kita mengetahui banyak pasangan suami-istri yang bercerai. Kebanyakan karena cinta yang dulunya ada kini sudah pudar karena berbagai masalah yang ada. Apa sih yang salah, yang mampu memisahkan sepasang suami istri yang dulunya saling mencinta?
Kenapa masalah keuangan sering menjadi pemicu perceraian? Pengelolaan keuangan yang baik itu seperti apa?
Di jaman sekarang ini, perlukah bagi seorang istri untuk selalu bangun lebih pagi dan tidur lebih lambat daripada suami, untuk memastikan agar semua urusan rumah tangga berjalan dengan baik?
Sebagai suami yang baik, perlu gak sih sampai kita harus memberikan uang belanja  kepada istri untuk belanja tas mahal seperti tas LV?
Bila suami mesti membantu adik-adik dan orang tuanya, istri juga harus mengirim uang bulanan kepada orang tuanya, ada jumlah yang disarankah gak sih, berapa yang harus dikirim?
Seringkali kita bingung, apa sih yang harus dilakukan, karena tidak adanya bimbingan yang jelas dan juga tidak ada tempat bertanya. Konsultasi kepada teman dekat dan keluarga, seringkali malah menjadikan masalah semakin berbelit-belit karena ada unsur keterlibatan secara emosi, karena mereka pasti akan sulit untuk berpikir secara adil.
Terkadang juga suami istri bisa bertengkar karena urusan mertua. Sampai dimana batas baik dan buruknya? Harus bertanya pada siapa?
And, benarkah pacar kita saat ini, merupakan calon terbaik yang kita pilih untuk menjadi suami/istri kita? Dapatkah jawabannya dengan mengikuti bimbingan pra nikah yang diadakan minggu depan ini. Jangan sampai kelewatan.

Dulu, saya dan suami saya, perlu waktu 6 tahun, sebelum memutuskan untuk menikah. Ragu-ragu terus dan juga tidak ada tempat bertanya. Kalau ada seminar seperti ini, mungkin akan sangat membantu kami dalam mengambil keputusan.
Pusdiklat ABI, MBI dan WBI  Pusat mengadakan bimbingan pra nikah, yang akan diadakan selama 2 hari  pada tgl 24-25 November, 2007, jam 08.30am sd 5pm di Ekayana Buddhist Center. Biaya Rp 100,000 per pasang(untuk biaya makalah dan pengganti makan siang dan snacks selama 2 hari).
Saran saya, daftar aja, jadi peserta, dengerin, tidak hanya mereka yang sudah menentukan wedding date yang harus mengikuti kursus ini, tetapi pasangan yang sudah terpikir untuk menikah juga boleh ikutan, sekalian belajar.
Catatan kaki:
Email ini saya tulis dan posting di milis dharmajala, dalam rangka membantu program suami saya memperkenalkan "Bimbingan Pra Nikah". Suami saya waktu itu menjabat sebagai koordinator seksi pendidikan di MBI Pusat. Program ini sampai sekarang masih berlangsung, untuk yang berminat, mungkin bisa menghubungi MBI Pusat.

To help people is not just about raising money

Gading Serpong, 27 April 2008
 
 
Dalam acara Idol Gives Back, awal April 2008 yang lalu, Brad Pitt berkata (lebih kurang yang nyantol di ingatan saya) "To help people is not just about raising money. But we need to get out of our comfort zone to feel their sufferring"
 
Mungkin yang dimaksud adalah, kalau kita keluar dari zona nyaman kita, menjadikan mereka sebagai teman mereka dan berbincang dengan mereka, membantu mereka, barulah perbuatan baik itu menjadi sempurna.
Seringkali kita lebih suka cara mudah dan convenient, "Perlu uang berapa, sini saya transfer, kasih saja no rekeningnya berapa..."  Sounds familiar?
 
Bantuan itu akan lebih mengena di hati kalau "we actually took the time to know the people and merasakan betapa bantuan itu begitu berarti bagi mereka, penderitaan kita sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka".
 
Ketika berbincang-bincang dengan ibu-ibu dari POS Daya di Bogor, February 2008 yang lalu, mereka mengkoordinir dana bantuan, menyumbangkan dana makanan untuk anak-anak kampung, mungkin sebatas susu dan kacang hijau. Bahwa perbaikan gizi 1 minggu, kalau dilakukan selama 20 minggu, itu lebih berarti, karena mencegah lebih baik daripada ketika terjadi sakit, barulah kita mencari dana untuk membantu mereka. Mungkin ibu-ibu yang membaca email ini, bisa membantu mengkoordinir pemberian bantuan di daerah masing-masing.
 
Ada banyak perdebatan antara ajaran Buddha dan agama lainnya, saya pikir kita juga harus mengambil nilai positif dari agama lain, misalnya perpuluhan. Mungkin tidak kita ambil mentah-mentah tetapi kita modifikasi sedikit.
Misalnya umat Buddha yang mampu, menyumbangkan 10% dari penghasilan mereka untuk membantu umat Buddha yang tidak mampu. Kedua pihak akan merasakan kebahagiaan. Yang satu bahagia karena telah memberi, yang satu lagi merasa berbahagia karena menerima. Sebentar lagi Waisak, mungkin teman-teman bisa koordinir sendiri-sendiri antar kelompok, membantu umat Buddha yang kurang beruntung agar bisa merayakan Waisak tanpa harus kelaparan karena harga beras sudah mulai naik. Waisak adalah tentang sebuah hati yang tulus, bukan hanya sekedar upacara ceremonial.
 
Selamat berdana.

Motivasi menjadi sukarelawan

Jakarta, May 13, 2009

Sebagai sukarelawan di vihara, terkadang saya mengamati bahwa kita semua yang
terdorong untuk menyumbangkan tenaga dan kerja sosial, semua memiliki tujuan
mulia untuk saling membantu. Tetapi, terkadang, sepanjang perjalanan kita
melakukan pekerjaan sosial, sering terjadi benturan-benturan kecil yang
mendorong ego kita untuk naik keatas. Mulailah dengan komplain-komplain kecil,
"dia menyakiti saya, dia tidak menghargai saya, etc".

Usia saya sekarang 36 thn. Banyak kepahitan dalam hidup saya. Latar belakang
keluarga saya, orang tua saya bercerai ketika saya masih SD, juga mempengaruhi
cara pandang saya akan kehidupan. Kalau saya tidak cerita, mungkin teman-teman semua akan berpikir bahwa hidup saya baik-baik saja.

Demikian juga orang-orang di luar sana, sebagian juga mereka yang aktif di
vihara, banyak kepahitan mereka yang tidak kita mengerti. Karena kita tidak
pernah berusaha mengerti mereka lebih dalam lagi, kita terlalu sibuk dengan diri
kita sendiri. Kepahitan itulah yang melandasi semua tindakan mereka. Ketika
mereka melakukan hal yang tidak kita sukai, seperti kata Sis Chan Kong di retret tentang mindfullness, itu adalah stored consciousness yang tertimbun di otak mereka, sebagai hasil dari pengalaman mereka di masa lalu.

Kita harus mengerti bahwa kita masing-masing punya luka batin. Dengan latihan
yang mendalam, kita berusaha mengurangi ego kita, berusaha mengerti orang lain.
Banyak aktivis di lingkungan vihara yang saya kenal baik dan terkadang saya
tidak selalu sepaham dengan mereka dan terkadang mendorong saya untuk melakukan konfrontasi. Tetapi saya berusaha untuk mengerti bahwa kita semua bersama-sama berusaha melakukan hal yang baik dan tujuan bersama itulah yang saya lihat.

Walau kadang tidak sepaham, saya berusaha menyediakan telinga saya, untuk
mendengarkan keluhan-keluhan mereka. Itu adalah latihan bagi saya. Sebagian dari
keluhan itu juga menangis meminta perbaikan sikap dari saya yang bagi mereka,
kurang sesuai, etc...

Jadi, saya tidak pernah fokus pada penderitaan saya karena saya tahu semua juga
menderita. Kita berusaha mencari sedikit kebahagiaan dengan berbagi sebagian
kecil dari kita, sebagian kecil dari tenaga kita.

Dulu saya menyediakan waktu saya untuk keluarga, teman-teman dekat dan pekerjaan saya, itu saja. Ketika saya pikir kembali, kalau saya mau, saya bisa menyisihkan sedikit waktu lagi, untuk kerja sosial bahwa hidup ini harus diisi dengan hal-hal yang berguna bagi orang lain. TIdak hanya memikirkan diri kita sendiri. Kemauan itulah yang membuat saya tetap bertumbuh, walaupun juga banyak rintangan, terkadang hinaan juga, tetapi saya anggap itu bagian dari latihan
saya. Itu juga terkadang yang membuat kita bahagia, karena berusaha mengerti
orang lain.

Sampai hari ini, saya merasa belum melakukan hal yang maksimal, tetapi saya selalu dan akan tetap berusaha menjadi lebih baik.