Search this blog

Aug 4, 2026

Kebijaksanaan atau Ego?

Tangerang, 4 Agustus 2026

Kebijaksanaan atau Ego?

*catatan Jenty (ditulis setelah merenungkan beberapa hal yang terjadi minggu ini)


Sebagai upasaka-upasika, latihan kita bukan hanya dilakukan saat bermeditasi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Saat ada yang tidak sependapat, saat muncul rasa tersinggung atau marah, itulah kesempatan untuk berhenti sejenak dan melihat apa yang sedang terjadi di dalam diri.


Dalam kehidupan berorganisasi pun, kita sering menghadapi situasi yang tidak mudah. Misalnya, ketika ada seseorang yang sedang kecewa hingga ingin mundur dari kepengurusan atau keanggotaan. Apakah kita berhenti sejenak untuk mendengarkan, memahami apa yang sedang dialaminya, dan membuka ruang dialog? Ataukah kita terburu-buru menerima keputusan itu tanpa mencoba saling memahami? Cara kita merespons sebuah persoalan mungkin juga merupakan bagian dari latihan kebijaksanaan.


Sila bukan sekadar aturan, melainkan pengingat agar pikiran, ucapan, dan tindakan kita tidak menambah penderitaan bagi diri sendiri maupun orang lain. Seperti yang sering diingatkan Bhante, dengan menjaga sila dan terus berlatih meditasi, kebijaksanaan perlahan akan bertumbuh.


Minggu lalu, saat berkunjung ke Rutan dan Lapas Wanita, saya menyadari bahwa latihan yang sama juga relevan bagi mereka. Saya tidak datang untuk memberi nasihat, melainkan berbagi pengalaman tentang bagaimana saya berlatih menghadapi penderitaan, belajar memaafkan masa lalu, melangkah ke depan, dan kembali pada napas sadar setiap kali batin mulai goyah. Ketika seseorang sedang menderita, sering kali yang dibutuhkan bukanlah nasihat, melainkan teladan bahwa selalu ada jalan untuk bangkit melalui latihan.


Mungkin kita dapat bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya sudah mengenali bagaimana ego bekerja dalam diri saya? Ketika ego muncul, apakah saya mampu menyadarinya sebelum bereaksi? Apakah ucapan dan keputusan saya membawa ketenangan, atau justru menimbulkan luka, kebencian, atau perpecahan? Jika ucapan maupun tindakan kita menjadi sebab munculnya penderitaan bagi orang lain, bukankah itu juga merupakan karma buruk yang sedang kita ciptakan?


Pada akhirnya, latihan diri bukanlah tentang menjadi sempurna. Latihan adalah kesediaan untuk terus belajar, menyadari, dan memperbaiki diri, sedikit demi sedikit. Dari sanalah kebijaksanaan dan compassion bertumbuh.

Apr 28, 2026

Hati Baik, Luka Tak Terlihat

Tangerang, 27 April 2026

Pernahkah merasakan duduk di bangku cadangan dalam sebuah pertemanan? Ketika selalu dianggap siap sedia untuk menyediakan waktu bagi teman, namun jarang benar-benar diprioritaskan ketika kita yang membutuhkan? Sebuah kenyataan yang membuat hati terasa getir: merasa tidak pernah dianggap penting, seolah hanya menjadi pilihan kedua. Misalnya, ketika mengajak bertemu sekadar ngopi atau berbagi waktu, jawaban yang muncul hampir selalu bergantung pada “kalau sempat.” Ada kehadiran, tetapi tidak pernah diutamakan.

Ada pula pengalaman ketika seorang teman menolak berfoto bersama karena tidak ingin terlihat oleh orang lain bahwa ia pergi bersama. Luka semacam ini mungkin tidak diucapkan, tetapi tetap terasa.

Dari kejadian-kejadian seperti itu, muncul pelajaran tentang melepaskan. Melepaskan rasa diperlakukan sebagai cadangan, dan menerima bahwa setiap orang pantas mendapatkan perlakuan yang lebih baik. Pertanyaan yang patut direnungkan adalah: apakah sebuah persahabatan masih setara apabila salah satu pihak selalu merasa nomor dua? Walaupun niatnya mungkin bukan untuk menyisihkan, kepekaan tetaplah penting.

Bisa jadi teman tersebut baik hati, hanya kurang peka. Namun kebaikan tanpa kepekaan dapat melahirkan luka yang, walau tidak terlihat, tetapi terasa dalam. Di sinilah pentingnya merenungkan konsep mindful friendship; persahabatan yang tidak hanya hadir, tetapi juga sadar. Persahabatan yang peka terhadap kebutuhan emosional, yang memberi ruang untuk menghargai kehadiran, bukan sekadar mengisi kekosongan, dan yang menempatkan sahabat sebagai prioritas manusiawi, bukan opsi cadangan. Persahabatan yang sadar, penuh perhatian, dan saling menghargai.

Dalam proses mengenali diri, ada pelajaran untuk lebih menghargai diri sendiri. Jika ingin diperlakukan lebih baik, perlu keberanian untuk mengutarakan apa yang membuat tidak nyaman. Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memberi rasa dihargai dan diprioritaskan. Ketika pertemanan hanya menempatkan seseorang di posisi cadangan, mungkin saatnya menyadari bahwa lingkaran itu tidak lagi sehat.

Bahwa setiap orang berhak untuk merasa dihargai, dan untuk itu perlu menjaga diri sendiri. Melepaskan bukan berarti berhenti peduli, melainkan memberi ruang untuk tumbuh dalam persahabatan yang lebih mindful, yang saling memperhatikan, saling menghargai, dan saling menempatkan sebagai prioritas.

Sebagaimana tertulis dalam Dhammapada: “Jangan meremehkan kebaikan kecil; bahkan tetes demi tetes akan memenuhi tempayan.” (Dhammapada, ayat 122).

Kata-kata ini mengingatkan bahwa dalam persahabatan, kepekaan kecil pun memiliki arti besar. Satu perhatian sederhana, satu sapaan tulus, atau satu usaha kecil untuk hadir dapat perlahan memenuhi ruang kosong yang selama ini terasa hampa. Luka yang lahir dari kebaikan tanpa kepekaan mungkin tidak terlihat, tetapi ia nyata. Namun, tetes demi tetes kebaikan yang dilakukan dengan kesadaran mampu menumbuhkan persahabatan yang lebih sehat, lebih hangat, dan lebih manusiawi.

Pada akhirnya, persahabatan sejati bukan hanya tentang seberapa lama ia bertahan, melainkan tentang seberapa dalam ia memberi rasa dihargai.

Mar 23, 2019

Mindful Breath, Better Life

Wei Hai, Shan Dong, China, 16 Maret 2019

Mindful Breath, Better Life - Jenty Siswanto

Mindfulness adalah satu kata yang lagi trending saat ini. Cari kata ini di internet, yang muncul adalah buku, seminar, video dan link ke berbagai pelatihan.

Saya ingin berbagi tentang bagaimana mindfulness membantu hidup saya dalam seminggu terakhir ini. Minggu penuh drama.

Hari Rabu lalu, 6 maret 2019, suami saya, yang sedang ada proyek di China, pingsan ketika berpidato di podium. Rabu sore, saya masih di BSD, Tangerang, baru selesai menjemput anak saya pulang dari sekolah ketika saya tahu suami sudah dibawa ke rumah sakit oleh rekan kerjanya dan sedang diinfus, kena Pneumonia. Kelihatannya cukup parah karena sampai pingsan.
Khawatir, sudah pasti. Tapi yang bikin frustasi adalah karena tidak bisa ngapa-ngapain selain panik. Apalagi Tangerang dan Wei Hai itu jauh banget, tidak ada direct flight juga. Jadi yang bisa saya lakukan adalah kembali ke napas. Bernapas masuk, bernapas keluar. Bernapas masuk, menyadari bahwa saat ini saya sedang panik karena suami saya sakit. Bernapas keluar, saya menenangkan diri. Lagu Breathing In Breathing Out itu tidak hanya sekedar lagu tapi juga rahasia hidup damai. Seringkali, hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi dalam hidup kita. Kita tidak bisa kontrol apa yang ada di masa depan, masa lalu sudah lewat dan saat ini adalah sekarang ini, yang ada didepan mata kita. Apapun yang terjadi, hal terburuk sekalipun, kita selalu bisa kembali ke napas.
Setelah tenang, saya baru memikirkan langkah apa yang harus saya lakukan. Ketika kita tenang, pikiran kita menjadi lebih jernih. Kemungkinan mengambil keputusan yang tepat akan lebih besar ketika pikiran kita jernih. Akhirnya saya berbicara dengan anak saya dan mengatur supaya dia bisa mandiri dalam seminggu ke depan karena saya akan berangkat ke Wei Hai malam itu juga. Untung juga dapat tiket, walaupun last minute.

Ternyata, drama tidak hanya disitu saja, ada kelanjutannya. Hari kedua setelah tiba di Wei Hai, saya mulai kecapekan. Ngurusin suami sakit itu melelahkan. Saya juga takut ketularan karena satu lantai rumah sakit itu isinya semua pasien dengan penyakit paru-paru seperti Pneumonia, TBC, etc. Pasien di sebelah suami saya juga batuknya mengerikan, kalau batuk, ada gelembung udara di sekitarnya, dahaknya banyak. Kembali lagi ke napas, saya juga tidak harus harus bagaimana. Dalam hati saya berdoa semoga saya tidak sampai sakit.
Akhirnya, walaupun tadinya ragu-ragu, saya mengambil keputusan untuk ke dokter.Sempat was-was juga meninggalkan suami saya yang sedang diinfus, tapi saya pikir, kesehatan saya juga penting. Karena bila saya tumbang, siapa yang akan mengurus suami saya nantinya? Ketika di pendaftaran, resepsionis menyarankan saya ke dokter bagian penyakit menular karena keluhan saya adalah kepala pusing, agak meriang dan batuk-batuk. Ketika bertemu dokter, saya bercerita bahwa saya pernah kena typhus persis setahun yang lalu dan saya khawatir bila kembali menderita penyakit yang sama. Dokter bilang, kasus penyakit typhus di rumah sakit mereka dalam 1 tahun paling cuma 5 pasien aja. Intinya, kemungkinan besar bukan typhus. Kemudian saya cek darah, cek typhus, cek lain-lain. Hebatnya, mungkin karena penduduknya luar biasa besar, rumah sakit di China juga sangat efisien. Saya cek up pagi jam 10, hasilnya sudah ada jam 12pm. Ternyata, semua hasil cek up normal. Dokter bilang ini lao lei, 劳累. Exhausted. Alias kecapekan. Katanya, "saya tidak kasih kamu obat ya, kamu istirahat saja."
Kemudian, saya mampir ke yanxitang, jaringan apotik di wei hai dan ngobrol dengan apotekernya. Direkomendasi untuk beli fu fang er jiao dan huang qi jing. Katanya kombinasi keduanya itu bagus supaya badannya sehat. Yang pertama untuk menambah darah, yang kedua untuk menambah kekebalan tubuh. Benar loh, setelah minum selama 2 hari, sembuh loh. Sudah tidak pusing kepalanya, juga tidak lemas lagi. The wonder of TCM (traditional chinese medicine).
Singkat cerita, dengan kombinasi berbagai metode; infus, TCM, meditasi dan istirahat yang cukup, suami saya saat ini sudah sembuh dan sudah kembali kerja seperti biasa.

Mindfulness, terjemahan bebas dalam Bahasa Indonesia adalah Sadar Penuh atau Bahasa Jawanya Eling, atau dalam kamus Cambridge adalah "The practice of being aware of your body, mind, and feelings in the present moment, thought to create a feeling of calm.”

Seringkali kita tidak trampil dalam mengekspresikan diri melalui pikiran, perbuatan, ucapan sehingga kita menyakiti yang lain tanpa kita sengaja. Untuk menjadi trampil, butuh latihan. Meditasi adalah salah satu metode dan seringkali meditasi diasumsikan bahwa kita harus duduk diam dan bersila kemudian memperhatikan napas. Kenyataannya, dalam posisi berjalanpun kita dapat bermeditasi, memperhatikan langkah kaki, kaki kanan ke depan, aku sedang berjalan dan bernapas masuk, kaki  kiri ke depan, aku sedang berjalan dan bernapas keluar dan demikian berulang-ulang. Atau ketika sedang mengemudi mobil di tengah kemacetan Jakarta yang sudah tidak diragukan lagi kadar kesemrawutannya.

Ada 2 latihan inti yang selalu diajarkan oleh Master Zen Thich Nhat Hanh agar kita menumbuhkan cinta kasih dan kasih sayang dalam diri kita yaitu; “Listening with Compassion dan Look Deeply”.
Seringkali ketika kita mendengar, kita hanya mendengarkan apa yang ingin kita dengar. Sambil kita mendengarkan, kita sibuk memikirkan apa yang akan kita respon. “Listening with Compassion” adalah mendengarkan HANYA untuk mendengarkan, tanpa memikirkan respon kita, kita mendengarkan dengan penuh perhatian. Terkadang lawan bicara kita hanya ingin didengarkan saja.
“Look Deeply” adalah ketika kita berusaha melihat sesuatu dengan lebih dalam lagi, tidak hanya sekedar apa yang ada dipermukaan. Misalnya ketika teman kita melampiaskan amarahnya ke kita sementara kita merasa tidak bersalah. Jangan langsung memposisikan diri sebagai korban. Jangan mengasihani diri juga. Cobalah melihat lebih dalam lagi, mungkin teman kita sedang menderita dan kita menjadi tempat pelampiasan penderitaannya. Disitulah kita melatih kesabaran dan kasih sayang. Thay, demikian panggilan untuk Master Zen Thich Nhat Hanh yang artinya guru, menulis sebuah puisi tentang kehidupan bajak laut yang menganiaya seorang perempuan yang diberi judul: Call Me by my True Name, bercerita bahwa bajak laut itu juga seorang korban bahwa ketika kita melihat sebuah masalah, janganlah hanya melihat dari satu sisi saja. Awalnya saya tidak memahami hal ini karena menurut saya, bagaimana mungkin kita bersimpati pada bajak laut yang telah menganiaya orang lain. Tetapi bertahun-tahun kemudian, saya paham maksud Thay, bahwa cinta kasih itu memang tidak terkotak-kotak. Selamat berlatih.

Jul 24, 2018

Diantara anak dan jalan-jalan

Seoul, July 24, 2018

Lagi travelling ke wei hai. Transit di seoul, bukan ding, stop over. Karena naik korean air, bisa stop over tanpa biaya tambahan. Sekalian belanja kosmetik. LoL. Cuaca sedang panas-panasnya. Kemarin 35oC. Gerah. Saking gerahnya, ada perusahaan kosmetik korea yang mengeluarkan gel untuk bikin kulit adem. Ada aja ya ide kreatifnya.
Dhilan gak mau keluar hotel lagi sorenya. Lebih enak ngadem di hotel drpd kelayapan sightseing and nemenin emaknya shopping.

Trus aku cerita, karena pekerjaan papanya yang sering relokasi setiap 5 tahun, kami jadi sering travelling. Karena kebanyakan di 2nd tier (changsha) dan 3rd tier city (wei hai), tidak ada direct flight dari Jakarta. Seringnya harus transit di kota besar seperti hongkong, shanghai, beijing, guangzhou dan seoul (krn wei hai secara geografis lebih dekat ke seoul drpd ke beijing atau shanghai dan connecting flight lebih banyak ke wei hai drpd kedua kota tsb).

Travelling bersama anak-anak, yang paling penting bagiku adalah menjaga agar anakku tidak kecapekan. Karena kalau sakit, ngurusnya rempong. Dulu waktu Dhilan kecil, aku selalu pastikan tengah hari balik ke hotel agar dhilan bisa tidur siang. Sore lanjut lagi. Sekarang sudah abege, tetap gak bisa lanjut seharian. Sore tetap harus balik ke hotel. Kenapa? Karena abege cowok gampang bete kalau diajak muter-muter gak jelas.

Punya anak, adalah sebuah kebahagiaan bagi orangtua. Tapi ada banyak gaya hidup yang harus kita sesuaikan karena kehadiran anak di tengah keluarga memerlukan banyak cinta.
Aku cerita sama Dhilan, jaman ketika aku aktif sebagai sales di salah satu perusahaan swasta, aku akan membatalkan semua appointment kalau anakku sakit. Sebagai sales, appointment itu adalah potential rupiah yang masuk ke kantong. Anak tidak bisa dihitung dengan rupiah. Tidak fair juga menjadikan anak sakit sebagai alasan. Itu semua konsekuensi sebagai orangtua. Aku rela kehilangan potensi sales dan biasanya diikuti dengan uang, yang bakal kudapat karena bagiku, anakku jauh lebih penting.

Kita tidak bisa mengharapkan orang lain mengerti masalah kita hanya karena kita punya anak. Atau hanya karena anak kita masih kecil, kemudian kita minta belas kasihan orang lain. Kita juga perlu menjadi dewasa, bahwa hidup adalah pilihan. Aku tahu, jaman dulu, kerjaku tidak pernah maksimal di sales karena aku selalu meluangkan waktu untuk anakku. Menyempatkan waktu untuk menemaninya berenang di water park atau di komplek dekat rumah. Jaman anakku kecil adalah jaman emasku di sales. Ada beberapa kali aku dapat insentif perjalanan keluar negeri. Aku tahu sebenarnya, kalau saja jam kerjaku aku extend sampai malam seperti teman-temanku yang lain, hasilku akan jauh lebih bagus lagi. Tapi tidak ada penyesalan, karena anakku tumbuh begitu cepat, tiba-tiba tinggi badannya sudah melampauiku. Perasaan baru kemarin aku tenteng strokler kemana-mana.

Jaman Dhilan kecil, aku juga masih muda, well, jauh lebih muda belasan tahun daripada sekarang. Sebagai keluarga muda, umumnya kehidupan ekonomi juga masih belum seimbang, kebutuhan masih banyak sehingga kami berdua harus sama-sama bekerja agar kehidupan lebih nyaman.
Aku butuh pekerjaanku karena selain mendapatkan uang, juga memberikan ruang untuk eksistensi diri. Dan aku suka pekerjaan sebagai sales, ketemu banyak orang dan closing sales itu selalu bikin ketagihan.

Fast forward ke 2018, ketika anakku sudah hampir 15 tahun dan sudah tidak perlu digandeng lagi karena takut hilang, aku mau sharing satu hal, travelling itu tidak nyaman bagi anak-anak. Berpindah tempat, melihat pemandangan, sebenarnya tidak begitu penting bagi mereka. Anak-anak ingin bermain, mereka ingin nyaman. Bukan ditarik kemana-mana ngikutin emaknya. Tapi ya itu, gak bisa diikutin semua keinginan anak karena kita juga kudu ajarin mereka untuk toleransi juga ke orangtua yang demen travelling. Tinggal pembagian waktu jalan dan waktu istirahat aja yang diatur.

Mar 21, 2011

Are you ready to face the sunsets?

Jakarta, February 12, 2006

Rasanya saya ingin menulis sedikit tentang tentang apakah anda sudah siap menghadapi matahari terbenam?

Versi saya; apakah kita sudah siap menghadapi kematian? Bagaimana dengan keluarga yang kita tinggalkan, apakah mereka bisa bertahan hidup tanpa kita?
Sangat menyedihkan ketika melihat persembahan makanan yang dilakukan untuk anggota keluarga saya yang baru meninggal tahun lalu dan membayangkan; bahwa ada kemungkinan bahwa suatu saat ada kemungkinan saya juga akan dilahirkan di alam kehidupan yang rendah dan memerlukan makanan-makanan tersebut.
Hal ini yang memberikan saya semangat, ketika badan sudah capek, tetapi masih semangat untuk melakukan ini dan itu. Walaupun saya tidak mengharapkan balas jasa tetapi semangat bahwa kita melakukan sesuatu yang berguna, itu sudah lebih dari cukup.
 
Saya sendiri, awalnya sempat terbebani dengan kehadiran anak saya karena kesempatan saya untuk berlatih menjadi lebih sedikit dan harus diakui bahwa bermain bersama anak saya lebih menyenangkan daripada meditasi yang sebentar-sebentar diganggu sama dia......dan diajak bermain bola.
Tetapi setelah membaca pengalaman seorang ibu di Eastern Horizon versi Bahasa Indonesia tentang kesulitan dia sebagai ibu dan kesempatan berlatih; mendadak saya seperti dicerahkan.... ternyata ada juga yang punya pengalaman sama dengan saya. Artikel lengkapnya mungkin bisa di google atau contact penerbit karaniya, saya sudah lupa edisi yang mana. 
 
Mengenai menabung dan asuransi; mampu atau tidak mampu itu sangat relatif, tergantung life style anda. Lakukanlah kedua hal tersebut, bila tidak ingin menjadi belas kasihan dari orang lain. Bila kita tidak menabung, kita akan menjadi beban orang lain ketika musibah itu datang, dan hal ini tidak bisa kita prediksi sebelumnya.
Tentunya akan lebih baik lagi kalau kita sudah mampu mensupport diri kita sendiri, bukankah lebih baik memberi daripada meminta?
 
Untuk asuransi, banyak jenis dan macamnya; ada 3 hal yang perlu kita teliti sebelum membeli;
 
Pertama; cari perusahaan yang solid yang mampu membayar klaim kita pada saat kita teramat membutuhkannya.
 
Kedua; lihat laporan keuangannya, bagus atau tidak, ini bisa umumnya dipublikasikan di media massa, umumnya di kompas (hanya perusahaan bagus yang berani mempublikasikan laporan keuangannya di kompas, sementara kalau dipublikasikan di pos kota, don't even bother).
 
Ketiga; cari agen yang bagus yang bisa membantu memberikan solusi atas masalah kita, bukan sekedar menjual saja dan berkoar-koar tentang produknya; belum tentu apa yang dijual sesuai dengan kita. Karena harus diakui produk asuransi juga banyak sekali.
 
Kalau bingung mau menghubungi siapa, mungkin saya bisa membantu.